PULANG KE DIRI (REFLEKSI DIRI - SELF COACHING)
Ika Kantiningtyas
Kinanthi Health And Healing Center
Februari 2026
Ada saat dalam hidup ketika kita lelah
mencari jawaban ke luar.
Nasihat terasa ramai, petunjuk terasa
bertumpuk, tetapi hati justru semakin bising.
Mungkin pada titik itulah kita sedang
dipanggil untuk berhenti sejenak dan pulang ke diri.
Dalam kearifan Nusantara dikenal laku
Sedulur Papat Kalima Pancer.
Manusia tidak berjalan sendirian. Ia
ditemani oleh empat unsur kehidupan—air, tanah, api, dan angin—serta satu pusat
kesadaran yang disebut pancer.
Air melambangkan fitrah dan perlindungan
hidup.
Tanah adalah kebutuhan jasmani yang
menopang raga.
Api adalah energi, akal, dan emosi yang
menggerakkan.
Angin menjadi penghubung kita dengan dunia
dan sesama.
Ketika keempat unsur ini berada dalam
keseimbangan, pancer menjadi jernih.
Dalam kejernihan itulah lahir ketenangan.
Dan dari ketenangan itu, sesuatu yang halus
mulai terasa hadir—yang oleh para leluhur disebut guru sejati.
Guru sejati bukan suara keras.
Ia tidak memerintah.
Ia tidak memaksa.
Ia hadir sebagai rasa yang jujur, sebagai
bisikan nurani yang muncul ketika hati bersih dan pikiran tidak lagi ribut.
Guru sejati berfungsi sebagai penuntun,
penyaring, cermin, dan kompas hidup.
Ia tidak memberi jawaban instan, tetapi
menuntun kita melihat kebenaran dari pengalaman sendiri.
Kebenaran semacam ini tidak berjarak. Ia
dialami, dirasakan, dan dijalani.
Namun guru sejati tidak muncul di hati yang
keruh.
Ia membutuhkan wadah batin yang bersih dan
lapang.
Di sinilah laku tazkiyatun nafs menjadi
penting: membersihkan penyakit hati seperti marah, benci, iri, dan dendam.
Hati yang kotor tidak mampu memantulkan
kejernihan; yang muncul hanyalah gema ego.
Laku prihatin bukan menyiksa diri,
melainkan melatih kendali: makan secukupnya, mengurangi berlebihan,
menyederhanakan keinginan.
Dari keterkendalian justru lahir rasa cukup
dan kebahagiaan yang tenang.
Semua itu bermuara pada olah rasa.
Rasa bukan sekadar emosi.
Ia adalah kesadaran halus yang
menghubungkan diri, sesama, dan kehadiran Tuhan.
Dalam olah rasa dikenal tiga tahap.
Srawung roso, saat kita belajar peka
terhadap gerak batin.
Seleh roso, ketika rasa diterima tanpa
dilekati lalu dilepaskan.
Dan manunggal roso, saat kehendak pribadi
perlahan selaras dengan kehendak Ilahi.
Olah rasa adalah jalan sunyi.
Ia tidak ramai oleh pengakuan, tetapi kaya
oleh keheningan.
Karena itu dikenal pula laku semedi dan
uzlah—diam sejenak dari hiruk-pikuk agar rasa mengendap.
Bukan untuk lari dari dunia, melainkan agar
dunia tidak terus menguasai batin.
Pada akhirnya, hakikat diri manusia
berwadah nurani.
Ketika rasa telah jernih, kita tidak lagi
kebingungan mencari arah.
Bukan karena hidup tanpa masalah,
melainkan karena kompas batin telah bekerja
dengan sendirinya.
Guru sejati tidak pernah pergi.
Kitalah yang sering terlalu jauh dari
keheningan.
Note : Ika Kantiningtyas
·
Penulis merupakan Seorang
Apoteker dan Praktisi Kesehatan Holistik
·
Kontributor Rutin Blog hidupbaru.net
·
Certified International Hypnotherapist
·
Certified IAIPS Public Speaking
Trainer
·
Graphologist Wonosobo
·
Certified IAINLP Trainer
·
Certiifed Profesional Coach
Indonesia
Nomor Kontak WA : 0812-3857-5662